Kamar AB Lapian

Your Reservation
Check In
Nights
Check Out
Rooms
Room 1
Adults
Children

Kamar AB Lapian

Start FromRp 227,500.00 / Night
Diskon 20%Menginap 7 hari 6 malam
Diskon 40%semua buku dari penerbit Komunitas Bambu
Diskon 30%Menginap 30 hari 29 malam

ADRIAN B. LAPIAN, dijuluki sebagai Nakhoda sejarawan Maritim Asia Tenggara. Sebab sejarawan ini memberikan banyak sekali kontribusi penting dalam penulisan sejarah Indonesia
dan Asia Tenggara secara umum, khususnya dalam perpektif maritim.

Ia yang lahir pada 1 September 1929 di Tegal, Jawa Tengah, lincah dalam pelbagai tema kajian sejarah, tetapi terutama sohor sebagai ahli sejarah maritim yang dengan disertasinya Orang Laut-Bajak Laut-Raja Laut: Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX dianggap telah membuka lembaran baru dalam penulisan sajarah maritim dan sejarah kawasan di Indonesia.

Disertasi dikatakan Sartono Kartodirdjo memuji bahwa “apa yang dilakukan Adrian B. Lapian dengan karyanya ini benar-benar merupakan keberhasilan cemerlang. Ia sudah melakukan prinsip yang mengarah ke excellence”. Tetapi dalam suatu wawancara seusai ujian dengan harian Kompas, Selasa, 21 April 1987, Adrian B. Lapian dengan rendah hati menyatakan “studi ini sekadar sumbangan untuk untuk melengkapi kekurangan bidang ini, yaitu menyoroti unsur air dari sejarah tanah air”.

Adrian B. Lapian adalah anak pertama dari B.W. Lapian, tokoh sohor pergerakan nasional di Manado, anggota Minahasaraad, anggota Fraksi Nasional Volkraad. Ia dikenang sebagai pelajar tekun yang santun sejak kanak. “Kutu buku” yang selalu siap memberikan jawaban berbobot juga kritis tapi cukup jelas dan to the point atas hal-hal yang rumit. Tak jarang dilontarkannya ide-ide yang menantang. Semula ia di Jurusan Sipil Fakultas Teknik Universitas Indonesia (sekarang Institut Teknologi Bandung) pada 1950, tetapi selain karena sakit, bacaan humaniora, dan ilmu budaya yang kuat pada 1953 ditinggalkannya. Ia lantas bekerja di desk surat kabar The Indonesia Observer. Tanggung jawab dan etika jurnalistik untuk membuat berita yang berimbang meggiring ia mempelajari sejarah hubungan antar negara. Disinilah semangat jurnalistik mulai tergeser oleh semangat mempelajari sejarah. Pada 1956, ia memutuskan pergi ke Jalan Diponegoro, Jakarta mendaftar sebagai mahasiswa sejarah, meskipun saat itu dikabarkan jurusan sejarah sudah ditutup lantaran ditinggalkan dosen-dosennya yang pulang ke Belanda.

Tahun 1957, ia mulai memfokuskan seluruh perhatian kepada studi sejarah. Saat inilah ia ikut ambil bagian dalam kerja-kerja Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia (MIPI) yang kemudian dilebur dengan Lembaga Research Nasional pada 1968 menjadi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Bersamaan mulai tumbuh pula perhatiannya menekuni sejarah maritim Indonesia dan maujud dalam bentuk skripsi mengenai jalan perdagangan maritim ke Maluku pada awal abad XVI. Minat ini juga yang menjadi landasan penting baginya saat bekerja pada Seksi Sejarah Angkatan Laut dan Maritim di Markas Besar Angkatan Laut antara 1962–1966. Di sinilah ia mengawali studi sejarah maritim bukan hanya di Indonesia tapi di wilayah Asia Tenggara. Untuk ini ia bukan saja patut disebut sebagai perintis sejarah maritim dan kawasan Asia Tenggara, tetapi juga memegang otoritas dalam bidang studi tersebut sampai saat ini.

Ketekunan dan dedikasinya yang besar pada studi sejarah membawanya ke berbagai posisi penting dalam berbagai lembaga penelitian di dalam dan luar negeri. Ia dengan sabar dan tekun untuk merintis pusat kajian maritim di berbagai universitas di Indonesia. Saat inilah ia terpilih sebagai anggota Unesco Consultative Commitee untuk program Integral study of the silk road: roads of dialogue, napak tilas jalur sutra via jalur laut yang merupakan ekspedisi maritim pertama oleh Unesco sebagai bagian dari dasawarsa pengembangan kebudayaan sedunia (Worlds decade for cultural development 1988–1997). Dari napak tilas jalur sutra itu kemudian Adrian B. Lapian mengembangkan gagasan untuk memulai proyek penelitian dan penulisan seri bandar-bandar dan pelabuhan-pelabuhan Indonesia di jalur sutra yang melibatkan sejumlah sejarawan dan arkeolog nasional. Tak berlebihan jika pada 1992 ia diangkat sebagai guru besar luar biasa di Universitas Indonesia dengan judul pidato pengukuhan Sejarah Nusantara Sejarah Bahari.

Tak dapat disangkal Adrian B. Lapian adalah sosok yang paling besar artikulasinya dalam mengingatkan betapa durhakanya bangsa Indonesia yang terlalu mementingkan daratan, walaupun sesungguhnya merupakan archipelagic state, negara dengan laut sebagai unsur utamanya. Dialah yang paling konsisten selama lebih dari 30 tahun membangunkan ingatan supaya bangsanya sadar dan tersentak seraya membalik pameo lama “jangan lupa daratan” menjadi “jangan lupa lautan”.

Komunitas Bambu telah menerbitkan disertasi Adrian B. Lapian Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut setelah sebelumnya terbit pula bukunya Pelayaran dan Perniagaan Nusantara Abad Ke-16 dan 17, serta buku penghormatan baginya Kembara Bahari. Juga buku tentang ayahnya BW Lapian; Nasionalis Religious karya F.R. Mawikare dkk.

error: Content is protected !!