Kamar Pramoedya A. Toer

Your Reservation
Check In
Nights
Check Out
Rooms
Room 1
Adults
Children

Kamar Pramoedya A. Toer

Start FromRp 227,500.00 / Night
Diskon 40%Semua buku dari penerbit Komunitas Bambu
Diskon 20%Menginap 7 hari 6 malam
Diskon 30%Menginap 30 hari 29 malam

Pramoedya Ananta Toer tak salah lagi adalah sastrawan terbesar Indonesia sekaligus dianggap oleh Soeharto, penguasa Indonesia paling panjang, sebagai musuh utama Negara Indonesia. Pram lahir tanggal 6 Februari 1925 di Blora,putra sulung dari seorang guru yang nasionalis. Ayahnya putratertua seorang naib, sementara ibunya putri tengah seorangpetinggi keagamaan dari Rembang. Ibunya adalah murid ayahPramoedya di sekolah dasar pemerintah Belanda HIS atauHolandse Indische School. Ketika mereka menikah, ia berusia18 dan suaminya 32 tahun. Setelah pernikahan, sang suamimeninggalkan sekolah itu untuk mengajar di sekolah swastanasionalis Boedi Oetomo di Blora. Ia rela gajinya turun dariyang dia terima sebagai guru pemerintah sebanyak 200 guldenmenjadi 18 gulden sebagai kepala sekolah di institusi pendidikanpribumi tersebut.

Di usia empat tahun pada 1929, Pramoedya masuk di sekolahyang dipimpin ayahnya. Seperti yang ia akui sendiri, Pramoedyabukan murid yang pintar. Dia harus mengulang dua kali selamatiga tahun pertama pendidikan dasarnya. Selama periode iniayahnya mendedikasikan waktu di sore hari setelah sekolah,khusus untuk membinanya. Sang ayah mengajarinya tentangalam, nasionalisme, cerita-cerita rakyat, tentang penindasan,penderitaan manusia dan keserakahan Belanda. Ayahnya jugayang memperkenalkannya kepada keindahan musik gamelan.

Perca-perca pengalaman masa kecilnya terjahit dalamkumpulan cerita pendeknya Tjerita Dari Blora (1952). Sebagai contoh, cerpen “Yang Sudah Hilang” menggambarkan ibu sang narator mengajarnya hal-halseperti kajian tentang flora dan fauna lokal, nama-nama bintangserta konsep nasionalisme dan identitas budaya.

Tahun 1940, Pramoedya masuk sekolah teknik di Surabayauntuk belajar mekanika radio. Selagi kursus ia pun bekerjasebagai pedagang keliling menjual kecap botol dan kemeja.Juni 1942, Pramoedya meninggalkan Blora untuk hidup diJakarta. Ia masuk sekolah nasionalis Taman Siswa dan belajardi tingkat Taman Dewasa. Pada saat yang sama ia bekerja untukkantor berita Jepang Domei sebagai juru ketik.

Pada 15 Januari 1950, setelah menerima penghargaanuntuk novel Perburuan, ia menikahi gadis yang ia kenal selamaditahan, Arfah Ilyas. Arfah bekerja untuk Palang Merah dansering mengunjungi penjara Bukit Duri. Pramoedya kemudianbekerja untuk penerbitan pemerintah, Balai Pustaka, sebagaipenyunting di bagian sastra modern. Mei tahun yang sama, iaharus meninggalkan pekerjaannya dan kembali ke Blora bersamaistri untuk mengunjungi ayahnya yang sakit. Sang ayah meninggalsaat ia berada di sana.

Selama periode 1955-1965, ia menulis satu novel SekaliPeristiwa di Banten Selatan (1959). Sementara itu ia juga menulis potongan dari novel yanglebih panjang, Gadis Pantai, yang terbit berseri dalam BintangTimur pada tahun 1962. Ia juga menuliskan duaesai panjang: “Sedjarah dan Kritik Sastra” pada tahun 1964 dan “Tentang Novel” pada tahun 1965.Selepas kudeta September 1965, tahun di mana ia berencanamelanjutkan penulisan kreatifnya, ia ditahan, pertama di Salemba,kemudian Tangerang, lalu Pulau Nusakambangan sebelumkapal mengangkutnya ke Pulau Buru. Ia berada di sana sampaidibebaskan pada bulan Desember 1979. Selama penahanannya,ia menulis empat novel: Bumi Manusia, AnakSemua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Katja. Keempat novelini diterbitkan tak lama setelah ia dibebaskan—dua judul pertamaditerbitkan tahun 1980.Saat inilah namanya mulai disebut beberapa kali sebagai kandidat Hadiah Nobel Sastra.

Buku tentang Pram yang diterbitkan di Komunitas Bambu adalah: Kees Snoeck dan Hans den Boef, Aku Ingin Lihat semua Ini Berakhir; Hong Liu dan Gunawan Mohamad, Pram dan Cina; Savitri Sherer Pramoedya Ananta Toer: Luruh Dalam Ideologi.

error: Content is protected !!