Kamar Sitor Situmorang

Your Reservation
Check In
Nights
Check Out
Rooms
Room 1
Adults
Children

Kamar Sitor Situmorang

Start FromRp 227,500.00 / Night
Diskon 40%semua buku dari penerbit Komunitas Bambu
Diskon 20%Menginap 7 hari 6 malam
Diskon 30%Menginap 30 hari 29 malam

Sitor Situmorang penyair terkuat, juga sumber ilham bagi penyair-penyair di Indonesia. Sebab sajak-sajaknya bukan saja dari segi isi, tema, kata-kata, dan irama memberikan kebaruan, tetapi juga membawakan kekayaan batin dari pemikiran-pemikiran.

Sitor juga tokoh yang memikat dan lincah dalam pelbagai lapangan kegiatan budaya. Ia menulis naskah drama Jalan Mutiara (1954). Beberapa cerpennya dalam Pertempuran dan Salju di Paris (1956), Pangeran (1963) dan Kisah Surat dari Legian (2001) dikatakan para kritikus sastra harus dimasukkan oleh siapa pun yang hendak membuat kumpulan cerpen terbaik dunia. Dari tangannyalah lahir cerita film Darah dan Doa (1950) yang dianggap sebagai tonggak pertama film Indonesia. Sitor juga aktif di dunia jurnalistik dan penerjemahan, selain juga menulis cerita anak Gajah, Harimau dan Ikan (1981). Pada 1993, ia menulis karya antropologi-sejarah Guru Somalaing dan Modigliani “Utusan Raja Rom” dan Toba Na Sae. Esei dan kritik kebudayaan yang dilontarkan pada pada 1950-an dianggap terbaik di zamannya dan sebagai artefak sejarah pemikiran kebudayaan Indonesia kini.

Sitor adalah penyair yang tidak membeda-bedakan antara kerja politik dengan kerja sastra. Ia digelari raja penyair lirik, tetapi juga panglima kebudayaan marhaen. Sejak pertengahan 1950, ia aktif berpolitik dengan memasuki lembaga-lembaga yang tumbuh untuk mendukung gagasan Demokrasi Terpimpin Presiden Sukarno. Pada 1956, ia menulis risalah politik Marhaenisme dan Kebudayaan Indonesia. Ini membuatnya disebut garansi pemikiran kebudayaan Sukarno. Sebab itu pada 1959, ia terpilih sebagai pendiri serta ketua Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) anak organisasi Partai Nasionalis Indonesia (PNI). Dalam masa ini Sitor banyak menulis dan berceramah tentang hubungan sastra dan politik yang kemudian dikumpulkan dalam Sastra Revolusioner (1965). Bersama jatuhnya Presiden Sukarno pada pertengahan tahun 1960, ia dijebloskan dalam penjara Presiden Soeharto tanpa proses pengadilan. Setelah delapan tahun disekap,  ia muncul lagi di panggung sastra dengan arus sastra baru yang mewakili perkembangan baru.

Sitor lahir pada 2 Oktober 1924 di Harianboho, satu desa di kaki Gunung Pusuk Buhit yang dianggap sebagai tempat berasalnya suku Batak di Pulau Sumatra. Ia adalah penyair dengan geografi pengelanaan yang luas sebagai sumber ilham yang dipadukan ikatan pada kampung serta tanah airnya yang kuat. Sebagai sastrawan Angkatan 45, ia berumur panjang dan satu-satunya yang sampai masa-masa menjelang meninggal pada 20 Desember 2014 masih terus mengelana sebagai warga dunia dan menulis sajak. Pada 2016, terbit kumpulan sajak lengkapnya 1948-2008 yang memuat lebih dari 750 sajak.

error: Content is protected !!