Kamar Soekarno

Your Reservation
Check In
Nights
Check Out
Rooms
Room 1
Adults
Children

Kamar Soekarno

Start FromRp 227,500.00 / Night
Diskon 40%semua buku dari penerbit Komunitas Bambu
Diskon 20%Menginap 7 hari 6 malam
Diskon 30%Menginap 30 hari 29 malam

Sukarno Ada yang bilang Sukarno adalah Indonesia. Terasa berlebihan, tetapi cobalah percaya bahwa hampir setiap persoalan Indonesia dikaitkan dengan dia. Bahkan setelah ia meninggal pada 21 Juni 1970 justeru semakin kuat kehadirannya dalam setiap persoalan keindonesiaan. Jauh lebih kuat dari ketika ia masih hidup.

Penilaian atas Sukarno yang lahir pada 6 Juni 1901 itu sering dikaitkan dengan jasanya sebagai proklamator dan penggali Pancasila. Tetapi, jauh sebelumnya sejak awal abad ke-20 saat usianya masih belasan ia telah berkenalan dengan pergerakan karena dititipkan ke asrama di rumah tokoh pergerakan HOS Tjokroaminoto pimpinan Sarekat Islam (SI) oleh orang tuanya, Raden Sukemi Sosrodihardjo, seorang priyayi rendahan yang bekerja sebagai guru Sekolah Dasar, dengan Nyoman Rai yang berdarah biru dari Bali dan beragama Hindu. Di metropolitan Surabaya itu selain menerima pengarushj Islam, ia juga terpengaruh kelompok lebih radikal Indische Partij yang kemudian dilarang dan kelompok Marxis orang Belanda serta pribumi sebagai cikal bakal gerakan komunis Indonesia. Ia mengaku menulis banyak artikel saat itu di koran Oetoesan Hindia yang dipimpin Tjokroaminoto.

Kekagumannya yang besar pada Indische Partij terutama para pimpinannya—Tjipto Mangoenkoesoemo, Douwes Dekker dan Suwardi Soerjaningrat—semakin kuat ketika ia melanjutkan sekolah ke Bandung. Mereka telah menyadarkan Sukarno untuk mengembangkan gerakan nasionalis sekuler dan mulai sangat serius menerjunkan diri ke dunia politik dengan mendirikan Algemeene Studie Club pada 1926. Betul kelompok studi ini berkembang di daerah-daerah sebagai hasil inspirasi dari Indonesische Studie Club yang didirikan oleh Dr Soetomo, tetapi Sukarno lebih menekankan kepada masalah-masalah politik radikal daripada pendidikan untuk membangkitkan kesadaran rakyat. Di sinilah ia menemukan kolonialisme sebagai nafsu mencari rezeki dengan cara biadab karena melakukan penghisapan manusia atas manusia. Penghayatan atas inilah yang mengantarnya menemukan ideologi politik yang disebutnya Marhaenisme, kerakyatan sebagai potensi revolusioner yang tertidur. Untuk membangkitkannya Soekarno menawarkan konsep persatuan sebagai prinsip utama pergerakan. Itulah sebabnya ia setelah mendirikan PNI (Perserikatan Nasionalis Indonesia) kemudian mendirikan PPPKI (Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Indonesia). Dalam aktivitasnya di sinilah, ia berulang kali dipenjara dan dibuang sampai kemudian Jepang datang menggantikan kekuasan Belanda pada 1942. Sukarno, setelah berunding dengan banyak tokoh-tokoh pergerakan, untuk memanfaatkan kekuasaan Jepang mencapai kemerdekaan. Jalan yang rumit tetapi seperti dikatakan sejarawan Aiko Kurasawa ternyata pilihan Sukarno berhasil mengarahkan gerakan kebangsaan dari punah di bawah kuasa lalim fasis militeris Jepang. Masa yang pendek itu digunakan untuk menyiapkan lahirnya Republik Indonesia dengan perangkat perundangan serta dasarnya, yaitu Pancasila.

Indonesia Merdeka dan Sukarno diangkat menjadi presiden, tetapi ia tak punya kekuasaan karena sistem parlementer. Sementara ia harus menghadapi Belanda yang merasa bahwa Indonesia adalah milik mereka. Semua ini baru berakhir pada awal 1950 dan menjelang 1960. Setelah mengeluarkan Dekrit Presiden pada 1959, Sukarno mulai menjalankan konsep-konsep yang menjadi tema sentral perjuangan dan ideologinya dalam kekuasaan yang disebut Demokrasi Terpimpin, Nasakom, Manipol Usdek dan Nefos. Indonesia dibawa dalam persingan ideologis yang keras untuk mengkritalisasi gagasan-gagasan kerakyatan. Tetapi, kelompok militer dan kanan internasional telah menjegal semua eksperimen politik nasionalis kiri Sukarno itu dengan memanfaatkan peristiwa gelap G30S 1965.

Sejak itulah kekuasaan Sukarno dilucuti. Ia diasingkan dari publik dan dengan cepat sebuah rezim militer bangkit dengan nama Orde Baru sebagai simbolisasi masa Sukarno adalah Orde Lama, periode yang usang dan harus dikubur sambil terus diyatakan berulang-ulang penuh kejahatan serta kesengsaraan. Tetapi, bersamaan Sukarno dengan pemikirannya tak mati-mati. Sukarno menjelma menjadi satu-satunyapolitikus Indonesia yang tersohor dan terus menentukan arah lintasan sejarah Indonesia di abad ke-20. Inilah yang menyadarkan, tanpa Sukarno maka Indonesia yang kita kenal besar hari ini tak akan pernah terwujud.

Komunitas Bambu telah menerbitkan buku tentang Sukarno cukup banyak, Percintaan Bung Karno dengan Anak SMA karya Kadjat Adrai; Sukarno dan Modernisme Islam karya M. Ridwan Lubis; Ekonomi Berdikari karya Amir Al Rahab; Soekarno, Tiongkok, Pembentukan Indonesia karya Hong Liu; Bung Karno Sang Arsitek karya Yuke Ardhiati, Sukarno, Orang Kiri, Revolusi dan G30S 1965 karya Onghokham; serta karya Peter Kasenda Hari-Hari Terakhir Sukarno, dan Sukarno, Marxisme, Leninisme

error: Content is protected !!